lombok

Objek Wisata Di Lombok Yang Mempunyai Mitos

Tempat wisata biasanya tidak hanya menawarkan keindahan semata, namun juga cerita mistis dan mitos yang dipercaya secara turun temurun. Berikut ini adalah beberapa objek wisata di Lombok yang mempunyai mitos dan hingga kini hal tersebut menjadi salah satu daya tarik destinasi ini hingga banyak wisatawan yang ingin membuktikannya.

1. Air Terjung Mayung Putek

Air Terjun Mayung Putek punya keistimewaan yakni airnya mengandung belerang. Terletak di Desa Sajang, Sembalun, Lombok Timur, air terjun Mayung Putek adalah destinasi wisata yang harus Anda kunjungi. Diberi nama “Mayung Putek” yang dalam bahasa Sasak artinya rusa putih. Konon, lokasi air terjun ini pada saat-saat tertentu sering terlihat rusa putih sedang minum dan mandi. Air terjun Mayung Putek, beberapa diantaranya menuliskan dengan “puteq”, mempunyai ketinggian sekitar 60 meter. Selain tergolong cukup tinggi, air yang deras menghujam ke bawah itu ternyata mengandung belerang karena berasal langsung dari Rinjani. Itu mengapa air terjun Mayung Putek berwarna putih dan mempunyai khasiat bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit.

2. Air Terjun Tiu Kelep

Tiu Kelep yang terletak di Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Lombok Utara. Berbeda dengan Tiu Pupas , air terjun Tiu Kelep memiliki ketinggian 42 meter dan bertingkat-tingkat. Airnya cukup deras dan besar. Namun kolam yang berada di bawahnya tidak begitu dalam, hanya sepinggang orang dewasa. Dasar kolam lembut, sehingga memudahkan pengunjung untuk berenang. Dalam bahasa Sasak “Kelep” bermakna “terbang”. Sehingga nama ini ingin menggambarkan kondisi air terjun yang buih-buih airnya berterbangan di kolam. Banyak yang percaya, bahwa dengan mandi menggunakan air Tiu Kelep akan membuat Anda awet muda.

3. Makam Selaparang

Makam Selaparang berada di Lombok Timur, tepatnya di kecamatan Swela sekitar 65 km dari kota Mataram. Untuk masuk ke lokasi makam, kita harus membayar tiket seharga Rp. 5 ribu per orang. Kita juga harus mentaati segala peraturan di lokasi ini, yakni dilarang memotret, harus mengenakan baju yang sopan, melepas alas kaki dan bagi yang sedang menstruasi tidak boleh masuk ke area makam. Komples Makam Selaparang ramai dikunjungi peziarah pada waktu-waktu tertentu seperti menjelang musim keberangkatan jamaan haji dan beberapa waktu khusus lainnya. Tradisi ziarah ke Makam Selaparang masih lestari hingga sekarang. Ada tiga makam yang banyak dikunjungi di kompleks Makam Selaparang yakni makam Raja Selaparang, makam orang tua Raja Selaparang dan makam panglima Gajah Mada. Di ketiga makam ini, pengunjung sering menaburkan bunga dan membasuh muka dengan air yang telah seediakan. Dengan membasuh muka ini diyakini bagi yang masih lajang akan cepat mendapat jodoh.

4. Makam Loang Baloq

Makam Loang Baloq adalah kawasan pemakaman yang didalamnya terdapat puluhan jasad. Yang menjadi istimewa dan kerap dikunjungi warga adalah makam Maulana Syech Gaus Abdurrazak, makam Anak Yatim dan Datuk Laut. Syech Gaus Abdurrazak adalah pendakwah Islam dari Baghdad Irak yang menyebarkan Islam di Palembang dan kemudian Lombok sekitar 18 abad lalu. Selain berziarah, pengunjung yang datang ke kompleks makam ini juga menggelar sejumlah ritual seperti potong rambut anak yang masih balita atau disebut dengan ngurisang. Peziarah biasanya juga menyampaikan nazar dan berdoa di makam agar segera permintaanya segera dikabulkan. Misalnya seperti minta jodoh, panjang umur, sehat dan murah rejeki. Bagi yang menyampaikan nazar tertentu, mereka selalu mengikatkan sesuatu ke akar gantung pohon beringin. Jika nazar mereka dikabulkan, mereka akan kembali lagi ke tempat itu dan membuka ikatan serta membayar nazar yang sudah disampaikan. Tradisi dan kebiasaan ini disebut dengan Saur Sesangi.

5. Air Terjun Jeruk Manis

Ari Terjun Jeruk Manis

Air terjun Jukut juga sering disebut sebagai air terjun Jeruk Manis. Air terjun ini punya ketinggian sekitar 40 meter dengan curah air yang sangat besar dan jernih. Objek wisata yang menyegarkan ini berada di kaki gunung Rinjani tepatnya di sebelah selatan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Rinjani. Menurut cerita yang turun temurun, air terjun ini dipercaya dapat membantu menyembuhkan berbagai penyakit terutama juga berkhasiat untuk menyuburkan rambut. Untuk pengobatan penyakit, biasanya dilakukan dengan ritual tradisional yang dipimpin oleh seorang Pemangku.

6. Taman Narmada

Taman Narmada adalah taman yang dibangun pada 1805 oleh Raja Mataram Lombok Anak Agung Ngurah Karangasem. Pada awalnya, Taman Narmada di bangun untuk tempat perayaaan upacara Pakelem yang dilaksanakan setiap purnama kelima tahun Caka. Selain itu Taman Narmada juga tempat peristirahatan para Raja dan keluarga saat musim kemarau. Ada yang mengatakan bahwa desain Taman Narmada di dibuat meniru suasana yang ada di puncak Gunung Rinjani. Keunikan Taman Narmada adalah air kolamnya yang banyak dipercaya membuat awet muda. Tak heran jika Anda akan melihat kolam ini dipenuhi wisatawan dan juga warga setempat untuk mandi atau hanya membasuh badan saja. Karena kandungan mineralnya yang cukup tinggi, Anda akan merasakan betapa segarnya setelah bermain air di kolam tersebut. Taman Narmada berada di desa Lembuah, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat atau 10 km arah timur kota Mataram.

7. Taman Nasional Gunung Rinjani

Gunung Rinjani adalah gunung primadona wisata di Lombok. Wisata petualangan gunung Rinjani ini tidak hanya menyajikan tantangan mendaki bagi para pecinta alam namun juga kecantikan Kaldera Danau Segara Anak. Gunung Rinjani adalah Gunung tertinggi nomor 2 di Indonesia yang merupakan kawasan terpadu Taman Nasional seluas 41.330 hektar. Berdasarkan legenda yang dipercaya oleh masyarakat Hindu, puncak Gunung Rinjani merupakan tempat bersemayam para dewa. Gunung ini terletak di Pulau Lombok bagian utara dan menjulang setinggi 3.726 dpl. Jika Anda ingin mendaki gunung ini, ada baiknya Anda mempelajari dulu rute yang sudah biasa dilalui para pendaki.

Gili Lampu

Gili Lampu

Beberapa orang Lombok yang pernah datang ke Gili Lampu mungkin lebih mengenal nama tempat tersebut sebagai Pulau Lampu. Sebuah pulau kecil atau lebih tepat dikatakan Gili ini terletak di Kecamatan Sambelia, Lombok Timur. Gili Lampu bukanlah sebuah pulau yang berisi lampu atau diterangi oleh lampu. Namun pulau ini merupakan tempat berdirinya sebuah mercusuar peninggalan jaman Jepang yang masih ada dan berfungsi hingga saat ini.

Dahulu Gili Lampu dimanfaatkan sebagai tempat peristirahatan para nelayan yang memancing di laut sekitar daerah tersebut. Namun lambat laun, karena keindahan alamnya serta inisiatif dari berbagai pihak terutama pemuda dan pemerintah setempat, Gili Lampu dipromosikan sebagai daerah wisata. Para wisatawan dapat menikmati keindahan alam, mereka dapat berenang di pantai sekitar Gili dan bagi para wisatawan yang menginap, mereka akan menyaksikan keindahan matahari terbit dari Gili Lampu. Gili Lampu terletak sekitar 2 Km di sebelah timur Desa Labuhan Pandan, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur. Gili ini diapit oleh Selat Alas dan Gili Petagan.

Gili Lampu
Gili Lampu

Secara administratif Gili atau Pulau Lampu termasuk dalam wilayah Kecamatan Sambelia, posisinya sekitar 2 Km di sebelah timur Dusun Transad Desa Labuhan Pandan. Dari segi komposisi pulau ini lebih tepat disebut gugusan karang, karena jenis vegetasi yang dominan tumbuh di atasnya hanya bakau. Di sebelah timur Pulau Lampu berbatasan dengan Selat Alas, kemudian di utaranya terdapat Gili Petagan yang berukuran sedikit lebih besar, dan di sebelah selatan ada beberapa gugusan pulau kecil yang masyarakat setempat menamainya Gili Lebur. Kuat dugaan bahwa sebelumnya pulau-pulau ini merupakan satu kesatuan. Namun akibat arus pasang dan naiknya permukaan air laut, menyebabkan gugusan pulau karang ini seolah terpisah satu sama lainnya.

Sekitar tahun 1970-an, Pulau Lampu hanyalah tempat peristirahatan para nelayan yang kebetulan sedang mencari ikan di perairan sekitarnya. Pada waktu itu penggunanya kebanyakan adalah nelayan setempat, yaitu dari Dusun Labuan Pandan (Sekarang Desa Labuan Pandan, red), sebagian kecil dari Dusun Tibu Borok dan sekitarnya, serta nelayan luar seperti dari Labuan Lombok, Tanjung Teros, Labuan Haji, atau Pulau Sumbawa. Demikian pula dengan pantainya, komunitas nelayan atau warga setempat lebih banyak memanfaatkannya untuk pelabuhan perahu dan sampan atau sekedar untuk mencari nener (bibit bandeng). Tetapi memasuki pertengahan tahun 1980-an, pemanfaatan obyek Pulau Lampu mengalami perkembangan proyeksi.

 Tidak hanya sebatas aktivitas nelayan dan budidaya perikanan, tetapi lebih didorong kearah kepariwisataan. Masyarakat sekitar terutama dari Dusun Transad yang pada dasarnya tidak berlatar belakang nelayan mulai tertarik melakukan pengembangan, antara lain dengan membersihkan dan menata pantai sehingga nyaman untuk rekreasi. Beberapa fasilitas meskipun alakadar (minimalis) mulai disediakan, seperti tempat pedagang makanan dan minuman ringan, membuat sumur pembilasan, tempat ganti pakaian, dan toilet umum. Kemudian pada tahun 1990-an, selain menyediakan penginapan seperti bungalow-bungalow, kelompok pengelola setempat yang dimotori Mas Yanto dkk terus melakukan pembenahan, misalnya dengan menyediakan paket penyeberangan ke Gili atau perjalanan antar lokasi wisata pantai di Pulau Lombok. Pada waktu itu kerjasama sudah dilakukan dengan agen tour and travel ternama, seperti “Perama”.

Saat ini obyek wisata Pulau Lampu sudah lebih dari cukup terkenal, khususnya sebagai salah satu destinasi wisata pantai yang ada di Pulau Lombok. Dalam promosi paket tour wisata yang disebutkan adalah “Pulau Lampu”, tetapi sepertinya yang lebih dominan wisata pantai. Selain bisa mandi dan berenang dengan aman di pantai, ketertarikan wisatawan lokal kebanyakan berkunjung kesana mungkin karena sensasi nama “Pulau Lampu”. Sedangkan bagi wisatawan luar atau mancanegara, yang menjadi magnet bukanlah sekedar nama itu, melainkan karena disana mereka bisa menikmati “sunrise”.

Secara analogi, kalau pariwisata di Bali punya Sanur dan Kuta untuk melihat sunrise dan sunset, maka pariwisata Lombok memiliki Pulau Lampu dan Senggigi untuk menikmati sunrise dan sunset. Kira-kira begitulah ilustrasinya walaupun pada kenyataan kondisi sangat jauh dari kata seimbang, khususnya untuk fasilitas pendukung. Tetapi bagaimanapun, inisiatif dan keberhasilan yang dicapai Masyarakat Sambelia terutama para pemuda di Dusun Transad ini patut mendapatkan apresiasi. Sebuah karya anak bangsa, yang sudah sepantasnya para pihak mendukung untuk pengembangan wisata daerah NTB, serta peningkatan manfaat yang seluasnya bagi masyarakat sekitar. Jika ingin lebih sukses, maka masih banyak yang perlu dilakukan bersama, misalnya bagaimana mengemas budaya dan produk lokal yang ada menjadi paket wisata guna meningkatkan pesona dan daya tarik kepariwisataan. Sudah barang tentu, semua itu harus dimulai dari sekarang hingga masa-masa selanjutnya.