Pura Suranadi

Meskipun mayoritas masyarakatnya muslim, sesuai dengan perjalanan sejarahnya sehingga banyak juga umat Hindu Bali, di Lombok juga terdapat beberapa pura yang sarat akan nilai-nilai spiritual dan budaya. Salah satu pura menarik yang bisa dikunjungi saat liburan ke Lombok yaitu Pura Suranadi. Dengan letaknya yang berada di tengah hutan wisata ini akan membuat liburan di Lombok terasa semakin sejuk saat mengunjunginya.

Pura yang hanya berjarak 30 menit dari Kota Mataram ini merupakan bagian dari hutan wisata yang ada di Lombok barat. Keunggulan tempat ibadah ini dibanding tempat lainnya adalah ketenangannya. Letaknya yang bukan di pusat kota, membuat pura ini lebih syahdu.

pura suranadi lombok

Pepohonan yang mengelilingi pura membuat udara semakin sejuk. Di sini, kegiatan peribadatan sangat kental terasa. Umat hindu yang berdoa dan membawa sesajen banyak terlihat di sini. Uniknya, sesajen ditempatkan di pagar tertutup karena banyak monyet yang berkeliaran bebas. Pura ini juga memiliki sumber mata air yang dianggap suci. Seruput sedikit air dari sumber mata airnya dan rasakan tubuh dialiri kesucian dari Pura Suranadi.

Kawasan wisata Suranadi yang merupakan semacam Kaliurang-nya Mataram, letaknya yang tidak terlalu jauh dari kota Mataram menjadikannya salah satu tempat favorit untuk melarikan diri dari kepenatan bekerja. Dengan udaranya yang berasa sangat dingin akan terasa lebih nikmat terasa saat kaki diterpa aliran air sungai.

Sambil menikmati udara yang segar serta suasana pemandangan alam yang masih asri akan terasa lebih mantap dengan menikmati kuliner Lombok yang dijajakan ibu-ibu berupa sate bulayak, pelecing kangkung atapun rujak terasi khas Lombok. Suasana lesehan dengan duduk di atas tikar semakin mendukung nikmatnya suasana. Di sekitar kawasan tersebut juga dapat dengan mudah ditemui pedagang oleh oleh makanan khas Suranadi seperti berbagai jenis dodol dari dodol nangka sampai dodol sarikaya.

Pantai Tanjung Aan

Selain kawasan Senggigi dan Gili Trawangan, Lombok menawarkan alternatif lain untuk menikmati keindahan pantai. Salah satunya adalah Tanjung Aan yang terkenal akan suasananya yang benar-benar masih alami dan asri dengan airnya yang biru jernih membuat kita amat tergoda untuk berenang. Tanjung Aan berjarak sekitar 90 menit berkendara dari Mataram, atau sekitar 30 menit berkendara dari BIL (Bandara Internasional Lombok) yang tepatnya pantai ini terletak berdekatan dengan Pantai Kuta Lombok.

Tidak ada yang menyangkal bahwa Lombok memiliki banyak pantai yang indah dan kerap dikunjungi oleh para wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Laut berwarna biru jernih dan hamparan pasir putih dapat ditemukan di Lombok. Namun pantai yang memiliki dua jenis pasir dalam satu tempat, pastilah Tanjung Aan tempatnya. Sepanjang sisi kanan dan kiri Tanjung Aan terdapat bukit-bukit yang menghadang ombak ganas laut selatan sehingga ombak di Tanjung Aan cukup tenang dengan butiran-butiran pasir hasil pecahan coral berbentuk merica yang menghampar luas.

tanjung aan

Pantai yang terletak di Lombok bagian selatan ini memiliki tekstur yang sangat unik. Di pantai ini, Anda akan mendapati pasir yang berbentuk seperti butiran merica sampai ke bagian bibir pantai. Kemudian tampak sebuah bukit kecil yang dapat dinaiki oleh para pengunjung. Di balik bukit kecil tersebut, pengunjung tidak akan lagi menemukan pasir dengan bentuk butiran merica lagi melainkan hamparan pasir putih yang sangat halus.

Pada hari biasa pantai ini cukup sepi sehingga kita bisa lebih menikmati keindahan pantai pasir merica. Pantai Tanjung Aan sangatlah sepi dan masih terkesan alami dengan fasilitas yang tersedia di pantai yang juga masih minim. Namun hal inilah yang menjadikan keistimewaan Pantai Tanjung Aan. Selain menyajikan pemandangan yang indah, suasana tenang dan lingkungan pantai yang alami menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Umumnya, para wisatawan datang ke lokasi ini untuk bermain air, berjemur, memotret atau surfing.

Tanjung Aan memiliki pantai yang bersih, warna laut yang biru dipadu buih ombak-ombak kecil menciptakan pemandangan yang mempesona. Garis pantai sepanjang 1 km dibatasi dengan bukit-bukit hijau membuat pemandangan Tanjung Aan jadi lebih indah dan luas. View yang lebih menarik lagi akan bisa didapatkan apabila naik ke atas bukit. Manakala mengunjungi Tanjung Aan pada sore hari dengan menaiki bukit yang menjorok ke arah laut bisa sambil menikmati senja yang hening.

Wisata Ke Hutan Monyet Pusuk Di Pulau Lombok

Lombok yaitu salah satu pulau berlibur andalan di Indonesia. Dengan keindahannya Lombok sudah dapat menggoda perhatian sangat banyak wisatawan. Hal tersebut membuktikan bahwa jumlah para wisatawan yang terus-menerus meningkat setiap tahunnya. Bahkan pengunjung yang mendatangi Pulau Lombok bukan hanya pengunjung pada negeri, melainkan juga wisatawan mancanegara. Salah satu lokasi wisata alam yang bisa dikunjungi di Pulau Lombok adalah hutan Monyet Pusuk. Pusuk yang berarti puncak yang merupakan bagian dari kawasan hutan rinjani.

Hutan Monyet Pusuk yaitu salah satu tempat wisata alam yang banyak dikunjungi wisatawan. Wisatawan yang singgah biasa tertarik demi memanfaatkan kesejukan suasananya dan kondisi alamnya yang tetap tetap alami. Sebagai lingkungan konservasi yang dijaga kealamiannya, tumbuh-tumbuhan tropis yang berada disana memang demikian lebat. Oleh sebab itu , wajar seumpama udaranya selalu sejuk serta menyehatkan tubuh anda. Untuk pengunjung yang terbiasa dengan keadaan udara yang berpolusi, maka berkunjung ke hutan Monyet Pusuk bakal memberikan kesegaran serta kelegaan saat bernafas.

hutan

Tempatnya yang strategis, yaitu ada di jalur pertama Lombok menjadikannya demikian ditunggu terutama oleh wisatawan yang ingin mengunjungi lingkungan berwisata air terjun Sindang Gile juga Tiu Kelep. Untuk wisatawan yang hendak berkunjung ke ke 2 tempat tamasya ini wajib melewati jalan raya yang membelah hutan Monyet Baun Pusuk. Itulah sebab kenapa sangat disayangkan seandainya tak berhenti sejenak memanfaatkan kesejukannya. Selain itu, hutan Monyet Baun Pusuk juga di lalui oleh wisatawan yang hendak mengunjungi beraneka lingkungan berlibur yang ada di bagian timur Lombok Barat.

Melewati jalan raya yang membelah hutan Monyet Pusuk, wisatawan bakal disuguhkan denganjalan yang bertikungan seperti di lokasi puncak. Di sana pengunjung juga bakal bertemu dengan banyaknya kawanan monyet yang bermain-main dan menunggu diberikan makanan dan minuman oleh pengunjung yang datang. Sekawanan Monyet di sana sudah sangat terbiasa dengan kedatangan wisatawan. Itulah sebab mengapa monyet-monyet yang liar itu tak berbahaya buat wisatawan dan justru meningkatkan kesenangan berwisata. Karena banyak tikungan tajam dan monyet yang sedang bermain di jalanan disarankan untuk selalu berhati-hati ketika menempuh jalan yang membelah hutan Monyet Baun Pusuk itu.

Pasar Sirip Hiu Di Tanjung Luar

Salah satu tempat yang membuat Indonesia terkenal sebagai eksportir sirip hiu terkemuka dunia adalah tempat pelelangan ikan Tanjung Luar yang terletak di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.  Di tempat pelelangan ini, setiap harinya, puluhan, bahkan ratusan, hiu dan ikan pari dalam berbagai ukuran dibongkar dari 70 kapal yang datang dari perairan Sulawesi dan Flores. Jumlah kapal sebanyak itu cukup signifikan untuk menyapu habis populasi hiu dan manta di sekitaran lautan tersebut. Bahkan Tanjung Luar disebut sebagai pasar hiu dan manta paling agresif di dunia.

Rata-rata ada 21 jenis hiu yang diperdagangkan di Tanjung Luar. Penduduk setempat menggunakan nama-nama lokal untuk menyebut beberapa jenis hiu ini, seperti hiu karet, hiu lonjor, hiu tikus, dan hiu kodok.  Begitu dibongkar dan dilelang, hiu-hiu dan pari atau manta ini akan langsung dibawa ke Jakarta, Bali, dan Surabaya, dengan tujuan akhir Hong Kong serta Cina daratan.

Sekilas, nilai ekonomi yang ditawarkan dari penangkapan hiu ini terasa besar. Sepanjang 2012, ada sekitar 3036 hiu dan manta dengan ukuran 1-4 meter yang mampir di Tanjung Luar. Nilainya mencapai sekitar Rp1,3 miliar selama setahun. Namun jika dibagi dengan 5000 orang yang tercatat sebagai penduduk Tanjung Luar, jumlah itu tentu tak seberapa. Pada 2013, hiu dan manta dengan ukuran sama yang dibongkar di Tanjung Luar tercatat ada 2627 dengan nilai Rp1,1 miliar.

Penghitungan jumlah tangkapan hiu dan manta ini dilakukan tanpa mengikutkan bayi-bayi hiu yang dijual per kilogram seperti layaknya ikan biasa di pasar saking banyaknya, bukan lewat pelelangan. Di Tanjung Luar juga banyak ditemukan hiu-hiu betina yang sedang hamil menjadi buruan. Ini tentu akan berdampak pada keseimbangan jumlah predator di laut.

Fakta-fakta ini adalah temuan dari penyelidikan selama dua tahun yang dilakukan oleh Jakarta Animal Aid Network, gerakan #saveshark Indonesia, Gili Eco Trust, dan Earth Island Institute.  “Nilai ekonominya terlalu sedikit untuk kerusakan lingkungan yang ditimbulkan,” kata campaigner dan pelapor JAAN Pramudya Harzani, Jumat (14/2) dalam konferensi pers mengenai temuan tersebut.  Meski perlindungan undang-undang terhadap hiu di Indonesia baru berlaku untuk jenis tertentu seperti hiu gergaji/gitar Sentani, namun Indonesia sudah meratifikasi resolusi Indian Ocean Tuna Commission (IOTC). Resolusi ini mewajibkan negara-negara yang sudah menandatanganinya untuk melindungi hiu dari perburuan sirip.

hiu

Perburuan dan pelelangan hiu di Tanjung Luar bukanlah tradisi turun-temurun. “Tradisi mereka adalah nelayan, bukan tradisi berburu hiu,” kata Pramudya. Dan seringnya, nelayan ini berburu hiu atas permintaan rentenir. Nelayan-nelayan ini terbelit utang sehingga harus membayar dalam bentuk tangkapan hiu. Banyak juga nelayan yang dimodali secara khusus untuk melaut dan menangkap hiu. Kisarannya mulai dari Rp5 juta untuk 2 hari melaut sampai Rp20 juta untuk 12 hari.

Begitu sampai di tempat pelelangan, tak bisa sembarang orang yang ikut membeli hiu-hiu ini. Ada 12 pembeli utama yang terbagi dalam kelompok Jawa, Madura, Bugis, dan Sasak. Mereka inilah yang punya koneksi dengan penampung sirip hiu dan insang manta. Dengan volume bongkaran hiu dan manta di Tanjung Luar, tak mungkin petugas pelelangan tak tahu apa yang sedang terjadi. Toh praktik itu terus berlangsung karena tak ada larangan resmi dalam bentuk undang-undang atau kuota ekspor, meski kecaman dari dunia internasional akan konsumsi hiu sudah berlangsung lama. Toh data Badan Pusat Statistik pada 2012 mencatat ada 60 ribu ton hiu dan 434 ton sirip yang diekspor Indonesia. Artinya, produk hiu tercatat sebagai komoditas ekspor resmi.

Perburuan sirip hiu dan insang manta juga memakan korban lumba-lumba. Mamalia ini ikut diburu untuk jadi umpan buat hiu. Padahal, perlindungan terhadap lumba-lumba berpengaruh terhadap label ‘dolphin safe’ yang sangat penting buat industri tuna. Konsumen internasional meminta ada label ‘dolphin safe’ pada produk tuna yang dijual. Artinya, lumba-lumba tak dibahayakan dalam industri penangkapan tuna. Jika perburuan lumba-lumba di Tanjung Luar terus terjadi, maka label ‘dolphin safe’ yang dimiliki Indonesia bisa dicabut, dan industri tuna kita terancam kehilangan konsumen internasional.

Menurut aktivis JAAN Femke den Haas, pada 2013 lalu di Peru juga ada aktivitas perburuan lumba-lumba untuk jadi umpan hiu. Namun dalam sebulan pemerintahnya tanggap dan menghentikan praktik tersebut. Menghentikan perburuan hiu untuk sirip, manta untuk insang, atau lumba-lumba untuk umpan tak sekadar soal keseimbangan ekosistem saja. Ada persoalan ekonomi yang mendasar.

Perburuan sumber daya laut dengan model seperti ini tak membawa kesejahteraan yang berlanjut buat penduduk lokal. Muatan hiu dan manta ini hanya sekadar mampir di Tanjung Luar, lalu dibawa ke tujuan akhir di Hong Kong dan Cina. Volume penangkapan yang dilakukan sekarang, apalagi sampai bayi-bayi hiu ikut ditangkapi, artinya menghabiskan ‘jatah’ tangkapan nelayan generasi berikutnya.

Delphine Robbe dari Gili Eco Trust bilang organisasinya punya pilihan program ekonomi laut yang bisa dikembangkan di Tanjung Luar, seperti pariwisata laut atau budidaya air tawar. Namun sulit untuk mengalihkan nelayan ke model-model bisnis seperti itu jika mereka terus terikat utang dengan rentenir. Belum lagi kekuatan mafia di Tanjung Luar yang membuat nelayan tak bisa berhenti menangkapi hiu dan manta.

Sebagai perbandingan, wisata melihat manta di Nusa Lembongan, Bali, bisa membawa pemasukan Rp23,5 miliar per tahun, sementara hasil tangkapan hiu dan manta dalam setahun terakhir hanya membawa rata-rata Rp1 miliar per tahun. Membiarkan manta (dan hiu) hidup pun seharusnya jadi pilihan ekonomi yang lebih logis. Industri pariwisata hiu dan manta pun sudah ada di Nusa Penida, Bali dan bahkan di pulau-pulau Gili, Lombok Barat.

Dengan rencana pemerintah menerapkan program Visit Lombok and Sumbawa di 2015, seharusnya ada kepentingan untuk menjaga ekosistem laut kawasan tersebut lebih lestari. Menurut Delphine, jika ada aturan yang lebih ketat soal perdagangan, seperti melarang penjualan insang manta atau sirip hiu, maka setidaknya ada dasar hukum yang mengurangi pengaruh mafia pengepul sirip dan insang di Tanjung Luar. Sayangnya, pemerintah, baik pusat dan lokal, maupun penduduk setempat, belum mampu melihat opsi-opsi ini untuk alternatif kesejahteraan. Maka penangkapan hiu dan manta terus-terusan dijadikan sumber pemasukan, meski tak seberapa, seolah keduanya tak akan pernah habis dieksploitasi.

Kota Mataram, Ampenan Dan Cakranegara

Tiga kota yang terkenal di daerah Lombok yaitu : Ampenan, Mataram dan Cakranegara. Ampenan merupakan pelabuhan lama pada masa pendudukan Belanda dan sekarang menjadi desa nelayan. Asitektur pada jaman Belanda ini masih kental terlihat dari peninggalan gaya asritektur bangunan lama, dan seiring dengan perkembangan tidak banyak peninggalan yang masih tertinggal.

Di kota Ampenan anda bisa menemukan banyak warung makan, toko bangungan, toko keperluan rumah tangga, toko emas, toko mutiara dan banyak lagi kegiatan bisnis yang lain. Di Ampenan terdapat pasar lokal yang bernama Kebon Roek yang menjual berbagai kebutuah sehari-hari, dari ikan segar, sayur mayur, hingga pakaian dan alat elektronik.

kota mataram

Di sebelah timur sekitar 3 Km adalah Kota Mataram yang menjadi pusat administrasi dan menjadi ibu kota Nusa Tenggara Barat, jadi tidak heran tempat ini merupakan tempat ramai dan penuh dengan aktifitas dari sekolah, kantor-kantor pemerintahan, Museum, Perpustakaan, hingga pusat perbelanjaan.

Sedikit ke timur Mataram adalah Cakranegara yang juga terkenal dengan sebutan Cakra, di sini merupakan tempat perbelanjaan pusat yang di dominasi oleh penduduk China dan Hindu. Di tempat ini anda bisa menemukan berbagai jenis usaha dari yang besar hingga pedagang kaki lima, tak heran jika Kota Cakranegara sering menjadi tujuan Wisata Belanja. Setelah Cakranegara adalah Sweta dan Bertais dekat Terminal bis antar kota.

Tetebatu Lombok

Tetebatu yang terletak di kaki selatan Gunung Rinjani ini adalah tempat yang indah dengan suasana alam pegunungan yang sangat menyenangkan. Wisatawan yang ingin mengunjungi wilayah Lombok Tengah dapat menjadikan Tetebatu sebagai basis atau pangkalan sebelum melanjutkan perjalanan mengeksplorasi wilayah Lombok Tengah.

Dari Tetebatu wisatawan dapat menyewa kendaraan (motor/mobil) untuk mengelilingi wilayah di sekitarnya. Panorama di kawasan Tetebatu sangat indah; dari tempat ini terbentang pemandangan ke arah selatan Pulau Lombok, panorama Gunung Rinjani di utara dan pemandangan laut ke arah timur. Tetebatu merupakan tempat yang sempurna untuk beristirahat bagi mereka yang menyukai suasana alam pegunungan.

Kawasan Tetebatu juga menjadi titik awal untuk memulai kegiatan hiking mengunjungi dua air terjun yaitu Air Terjun Jukut yang terletak di timur laut dan Air Terjun Joben yang terletak di barat laut Tetebatu. Kedua air terjun ini berada di lereng selatan Gunung Rinjani. Tidak ada angkutan umum yang tersedia untuk mengunjungi kedua lokasi ini sehingga pengunjung harus membawa kendaraan sendiri atau berjalan kaki selama satu setengah jam dari Tetebatu.

tetebatu

Berada di bagian Timur Lombok, menghamparkan pemandangan alam yang begitu indah, dan pada Tour ini kita akan mengunjungi Desa Sukarara, sebuah desa yang menjadi pusat KerajinanTenun kain dan Double Ikat asli suku Sasak, dan mengunjungi Desa Beleka, desa yag terkenal dengan kerajinan anyaman Rotan dan Ketaq (sejenis ilalang sekelas rotan) serta tak lupa singgah di Desa loyok yang terkenal dengan kerajinan bambu khususnya berbentuk bakul dan keranjang.

Dan ahirnya kita akan langsung menuju Tete Batu yang berada dilereng Gunung Rinjani yang akan mempesona kita dengan pemandangan pegununganya. Dan sebagai ahir kunjungan kita adalah Otak Kokok, sebuah Air terjun, yang oleh orang setempat dipercayai memiliki kekuatan therapis yang mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Taman Narmada

Taman Narmada merupakan taman terbesar dan terindah yang pernah dibuat oleh Kerajaan Bali yang berkuasa di Lombok. Taman ini dibangun pada tahun 1727 M oleh Raja Anak Agung Gde Ngurah Karang Asem. Nama Narmada diambil dari Narmadanadi, anak sungai yang sangat suci di India. Air merupakan unsur suci yang memberikan kehidupan bagi umat hindu. Mata air di Taman Narmada ini, konon berasal dari Gunung Rinjani dan sangat dipercaya dapat membuat awet muda.

Berawal dari Upacara Adat Pekelan yang dilakukan pada saat Upacara Pujawali. Pujawali adalah pelaksanaan pemujaan saat walin (hari persembahan) kepada Ida Bhatara pada pura yang dimaksud, dan hari persembahan itu adalah hari kelahiran beliau. Para penduduk asli Lombok penganut agama Hindu biasanya merayakan Upacara Pujawali dengan menaiki Gunung Rinjani dan melakukan ritual pekelan dengan melempar persembahan untuk menghormati dewa/dewi penjaga Gunung Rinjani.

taman

Pada saat itu sang raja kesulitan untuk melakukan ritual Pekelan ke puncak Gunung Rinjani yang memiliki ketinggian 3.726 m. Oleh karena itu, dibangunlah Taman Narmada menyerupai miniatur Gunung Rinjani dan Danau Segera Anak, sehingga sang raja dapat melakukan Upacara Pujawali dan Ritual Pekelan. Sementara larung saji tetap diadakan di Segara Anak oleh abdi-abdi kerajaan.

Di dalam Taman Narmada terdapat sebuah pura, yaitu Pura Kalasa. Sampai saat ini pura tersebut masih digunakan untuk melaksanakan Upacara Pujawali. Para wisatawan yang akan menuju pura ini harus melewati puluhan anak tangga, yang sengaja dibuat agar tampak seolah-olah menaiki Gunung Rinjani. Selain sebagai tempat pelaksanaan ritual adat, Taman Narmada juga sebagai tempat rekreasi keluarga. Beberapa fasilitas tersedia antara lain watersport (olahraga air), outbond, kolam renang, panggung hiburan, dan deretan warung yang menjajakan kuliner khas yaitu  sate bulayak dan nasi balap.

Di dalam Taman Narmada terdapat sebuah pura, yaitu Pura Kalasa. Sampai saat ini pura tersebut masih digunakan untuk melaksanakan Upacara Pujawali. Para wisatawan yang akan menuju pura ini harus melewati puluhan anak tangga, yang sengaja dibuat agar tampak seolah-olah menaiki Gunung Rinjani. Selain sebagai tempat pelaksanaan ritual adat, Taman Narmada juga sebagai tempat rekreasi keluarga. Beberapa fasilitas tersedia antara lain watersport (olahraga air), outbond, kolam renang, panggung hiburan, dan deretan warung yang menjajakan kuliner khas yaitu sate bulayak dan nasi balap.

Bukit Malimbu Surga Bagi Pemburu Keindahan Alam

Menikmati pantai tidaklah harus dengan bermain dengan pasir dan hempasan air ombak yang menerjang tepi pantai. Di kawasan bukit Malimbu kita bisa menikmati indahnya pemandangan laut dan pantai dari atas lembah. Tempat ini merupakan surga terutama bagi para fotografer dan pemburu sunset. Nikmati angle terbaik untuk menikmati Pantai Malimbu, Pantai Satangi, Gunung Agung dan tiga gili, yaitu Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno di seberang lautan serta sunset tentunya.

Pantai Malimbu terletak sekitar 5km di sebelah barat dari Pantai Sengigi yang berada dalam jalur menuju Gili Trawangan. Ada 2 stop over tempat singgah untuk menikmati indahnya pantai Malimbu. Stop over yang kedua berjarak sekitar 3km dari yang pertama. Stop over yang disebut dengan Malimbu view ini merupakan sebuah tikungan yang berada di puncak bukit yang langsung menghadap laut, Pantai Malimbu serta Pantai Setangi. Tepi bukit ini merupakan jurang yang cukup dalam, sehingga terdapat pagar yang menyerupai pagar jembatan yang dibangun demi keselamatan pengunjung serta areal parkir yang memadai.

Malimbu

Keindahan pantai Malimbu yang berkarang dan ombak akan terlihat bergulung-gulung indah dari atas. Wisatawan lokal maupun mancanegara berdecak kagum saat berkunjung ke tempat ini. Jika berkunjung dipagi hari, maka pemandangan pantai yang memantulkan cahaya matahari akan terlihat jelas. Pantulannya juga menyebabkan birunya laut Malimbu semakin terang dan menarik.

Namun, waktu berkunjung yang paling ditunggu-tunggu adalah sore hari, sekitar pukul 6 sore. Di waktu ini, ada pemandangan sunset yang tidak kalah dengan sunset di pantai manapun, termasuk Senggigi. Dan tentu saja, di sore hari itu, jumlah pengunjung berada di tingkat tertingginya, sehingga tidak jarang orang sampai rela parkir di bahu jalan.

Budaya Dan Bahasa Pulau Lombok

Kedekatan budaya Bali dan Lombok memang tidak dapat dipisahkan dengan sejarah kedua pulau bertetangga ini. Diawali dengan masuknya pengaruh paham Syiwa-Buddha dari Pulau Jawa yang dibawa para migran dari kerajaan-kerajaan Jawa sekitar abad V dan VI M sampai infiltrasi kerajaan hindu Majapahit yang mengenalkan ajaran Hindu-Buddha ke penjuru timur wilayah Nusantara pada abad VII M, termasuk ke Bali dan Lombok.

Selain pengaruh budaya dari barat [Bali dan Jawa / majapahit] kebudayaan Lombok dipengaruhi juga oleh budaya dari timur yaitu budaya Kerajaan Goa. Namun demikian, pengaruh kebudayaan dari barat ini lah yang lebih menonjol dalam kehidupan sehari-hari sampai saat ini. Pakaian tradisional seperti ikat kepala, misalnya, dalam adat Sasak disebut sapuk [pria] sama dengan udeng dalam busana pria Bali dan serupa dengan blangkon dalam busana pria Jawa.

perang topat

Kebiasaan nebon pantang memotong rambut bagi suami yang istrinya dalam keadaan hamil] yang terdapat di Bali, dikenal pula dalam tradisi Sasak Lombok. Selama nebon, kegiatan rumah tangga ditangani suami. Kebiasaan ini dipertahankan dengan tujuan demi melahirkan generasi yang berkualitas jasmani dan rohaninya.

Tradisi potong gigi, pertunjukan wayang lelendong [kulit], instrumen gamelan yang sama, tradisi kawin lari dan lain-lain juga beberapa di atara sekian banyak kesamaan budaya antara Bali dan Lombok. Selain itu, akulturasi budaya antara Bali dan Lombok juga terlihat dalam ritual penganut kepercayaan Islam Sasak atau Islam Wetu Telu.

Bahasa daerah yang dituturkan di Pulau Lombok oleh Suku asli Sasak disebut dengan Bahasa Sasak. Bahasa Sasak dapat dikelompokkan ke dalam ragam bahasa yang sama dengan Bahasa Jawa dan Bali. Banyak sekali kosa kata yang cara pelafalan, penggunaan dan maknanya sama dengan kosa kata dalam Bahasa Bali dan Jawa. Ini desebabkan oleh kedekatan geografis dan historis di antara mereka. Bahasa Sasak Bali dan Jawa sama-sama bersumber dari bahasa Kawi dengan aksara Jawa Kuno, Hanacaraka. Aksara Hanacaraka Bali dan Sasak sama-sama berjumlah 18, sementara Hanacaraka Jawa berjumlah 20.

Sejarah Pulau Lombok

Lombok adalah sebuah pulau nan elok yang digambarkan sebagai “seorang putri cantik yang masih tertidur” karena keindahan dan ketenangannya. Lombok terletak di antara 2 obyek wisata pesohor dunia yaitu Pula Bali dan Pulau Komodo. Lombok selain indah, aman dan nyaman untuk berlibur juga menyimpan berbagai keunikan budaya dan tradisi yang merupakan bauran dari berbagai budaya lainnya seperti Bali, Jawa, Bugis, Arab dll.

Obyek-obyek wisatanya sangat indah dan masih alami. Mulai dari ikan hias dan terumbu karang di dasar laut Gili Trawangan sampai flora dan fauna serta pesona alam nan menakjubkan di puncak Rinjani. Oleh karena itu, Lombok semakin mendapat tempat di hati para wisatawan baik nusantara maupun mancanegara.

rinjani

Menurut isi Babad Lombok, kerajaan tertua yang pernah berkuasa di pulau ini bernama Kerajaan Laeq [Sasak: lampau], namun sumber lain yakni Babad Suwung, menyatakan bahwa kerajaan tertua yang ada di Lombok adalah Kerajaan Suwung yang dibangun dan dipimpin oleh Raja Betara Indera. Kerajaan Suwung kemudian mengalami kemunduran dan muncullah Kerajaan Lombok. Beberapa kerajaan lain yang pernah berdiri di pulau Lombok antara lain Pejanggik, Langko, Bayan, Sokong Samarkaton, Selaparang dll.

Di antara kerajaan-kerajaan tersebut, yang paling maju pada zaman tersebut dan paling terkenal adalah Kerajaan Lombok yang berpusat di Labuhan Lombok sekarang ini; sebuah teluk yang sangat indah dan mempunyai sumber air tawar yang banyak. Keadaan ini membuat banyak pedagang dari Palembang, Banten, Gersik, dan Sulawesi menyiggahinya. Kemudian pada zaman kekuasaan Prabu Rangkesari, pusat kerajaan Lombok dipindahkan ke Desa Selaparang atas usul Patih Banda Yuda dan Patih Singa Yuda.

Pemindahan ini dilakukan dengan alasan letak Desa Selaparang lebih strategis dan tidak mudah diserang oleh musuh dibandingkan posisi sebelumnya. Dengan demikian, dapat disimpulakn bahawa kata “Lombok” diambil dari nama kerajaan tersebut. Dalam bahasa Sasak, secara leksikal kata “Lombok” berarti “lurus” atau “jujur”. Dalam kehidupan sehari-hari atau secara kentekstual kata “Lombok” dapat berarti ketulusan dan kejujuran dalam segala tingkah laku dan menghindarkan diri dari perbuatan yang merugikan orang lain.